Rabu, 07 November 2012
It's called 'Prestige'
Sulit bagi saya untuk memutuskan pindah dari perusahaan telekomunikasi yang sangat sesuai dengan bidang kuliah juga minat saya ke perusahaan penerbangan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuliah saya. Proses pendewasaan, pengembangan emosi juga egois berawal dari sini.
Saya seorang anak perempuan yang agak idealis memang. Sejak kecil orang tua saya terutama mama saya sudah mendidik saya untuk bisa tumbuh menjadi seorang gadis yang pintar, tidak hanya cantik tetapi juga pintar. Watak keras saya terbentuk karena kebiasaan. Saya selalu mengutamakan nilai akademis tertulis sebagai bukti bahwa saya punya prestige yang tinggi sebagai seorang pelajar. Saya tidak keluar rumah untuk urusan yang tidak penting. Saya menggunakan uang seefisien mungkin sebagai bentuk pengertian saya kepada Bapak yang mencari nafkah. Sampai akhirnya saya besar, saya menjadi terbiasa dengan itu semua. Dan terbiasa untuk menjalani apapun sesuai keinginan orang tua saya.
Setelah tiga bulan saya bekerja di perusahaan telekomunikasi, saya memutuskan untuk pindah bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang trasportasi udara. Ya, perusahaan bergengsi yang mendapatkan predikat 'Wolrd Best Regional Airline'. Keputusan itu saya ambil pastinya setelah perbincangan dengan kedua orang tua saya. Mama saya lebih senang dan bangga jika saya bisa bekerja di maskapai penerbangan terkemuka itu dibanding saya harus bekerja di perusahaan telekomunikasi. Kalau bapak saya pastinya ikut keputusan mama saja. Dari kecil saya selalu berusaha menjadi anak yang penurut sampai akhirnya saya ikuti kemauan mama, meski dalam hati saya ingin sekali menjalani apa yang saya cita-citakan.
Tiba di hari pertama bekerja di tempat yang baru, disitulah saya sadar bahwa nilai 'Prestige' itu selalu lebih utama dan mengalahkan segalanya. Bekerja di maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia tentunya memiliki penghargaan tersendiri dibanding saya bekerja di perusahaan operator telekomunikasi sebagai seorang engineer. Tapi, semenjak saya pindah kerja ke sana, semua berubah. Semua yang ada ada diri saya mulai berubah.
Hampir setiap malam saya menjadi anak yang cengeng, karena saya tidak bisa mengadu kepada siapapun bahwa saya tidak suka pekerjaan yang saya jalani sekarang. Bekerja shift, memiliki libur yang berbeda dengan teman-teman saya yang lainnya, Saya tidak bisa. Saya tidak pernah membayangkan bahwa nilai 'Prestige' harus dibayar sedemikian sulitnya. Jika saya bekerja di malam hari, saya harus benar-benar menahan kantuk saya. Atau jika saya benar-benar mengantuk, saya harus tidur di kursi kerja saya atau di sofa kantor. Dunia kerja yang saya jalani benar-benar tidak seindah yang saya bayangkan. It's the real life dan saya harus mengahadapinya. Setidak enak apapun kerjaan yang saya jalani, tapi orang tua saya bangga kok. Paling tidak saya dapat poinnya 'membanggakan orang tua'.
Dan akan terus saya jalani, meski hati saya berontak, sampai kapanpun akan saya jalani.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar